Paradoks Slogan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”

Standard
“Buanglah Sampah Pada Tempatnya”
.

Setiap orang pasti sudah mendengar dan ataupun membaca slogan di atas. Awalnya, slogan di atas memiliki makna dan perintah yang bagus, yaitu tidak hanya perintah untuk mewujudkan kebersihan, tetapi juga untuk ketertiban, kedisiplinan dan kenyamanan lingkungan. Namun, untuk yang kedua kali dan kesekian kalinya, jika kita perhatikan, slogan tersebut bermakna kabur. Slogan hanya slogan yang tidak ada upaya untuk mengarahkan pada tujuan sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas.

Kenapa? Memangnya ada yang salah dengan slogannya? Atau memang si penulis enggan untuk tertib menjaga kebersihan?

Jadi begini. Mungkin bagi beberapa orang, ini adalah masalah sepele, hanya masalah sogan yang berkutat pada perintah yang bersifat normatif. Tapi tidak bagi saya, karena suatu perintah itu harus jelas dan tepat. Suatu perintah adalah akar dari apa yang hendak dilaksanakan oleh orang yang diperintah. Dengan kata lain, bagaimana mungkin orang akan mengikuti perintah jika tanpa kejelasan dari pernyataan, yang menyatakan seseorang untuk diperintah (baca: slogan di atas).

Panjang nih jadinya. Tapi ini setidaknya adalah beberapa untaian paragraf yang perlu dituliskan untuk menjernihkan pemahaman masyarakat akan slogan tersebut. Bahkan saya pribadi tidak sependapat dengan slogan di atas. Bahkan pula saya berpendapat bahwa slogan tersebut adalah tanpa makna.

Mari diperhatikan dengan seksama: “Buanglah Sampah Pada Tempatnya.”

Dari perintah di atas, pertama yang akan diproses oleh otak kita adalah tempat untuk membuang sampah. Hingga kini, masih belum ada kesepakatan di mana sampah itu dibuang. Apakah di sungai, di selokan, di kebun, di belakang rumah, di toilet atau di mana? Bolehlah beberapa orang mendefinisikan “pada tempatnya”, meskipun dengan lompatan logikanya, yaitu tempat sampah. Tapi tahukan anda, tempat sampah tetap saja masih abstrak, dan bukannya yang saya sebutkan di atas sudah menjadi lazimnya yang disebut pula dengan tempat sampah, baik secara fungsi maupun lokasi?

Dari situ dapat ditarik pemahaman bahwa ketidakjelasan slogan tersebut terletak pada, “pada tempatnya” yang mengundang beberapa penafsiran terbuka.

Di sisi lain, jika kita harus mendefinisikan “pada tempatnya” adalah kotak sampah, keranjang dan atau apalah itu namanya, apakah yang dimaksud itu sudah terfasilitasi, khususnya di tempat umum?

Awalnya sih, saya tidak mempermasalahkan dengan slogan di atas. Tapi berbagai kali saya berada di tempat umum, jarang sekali ditemukan keranjang atau kotak sampah. Lalu, kemana kita harus membuang sampah? Di tas atau di saku celana? Kalau begitu, ini juga bisa juga didefinisikan tempat sampah (perluasan makna dari membuang sampah pada tempatnya, karena sampah yang dimaksud, kotak sampah, tidak tersedia di tempat umum).

Lalu, kalau sekarang sedang terjadi banjir, pencemaran dan sebagainya, jangan salahkan pihak yang berwenang saja, tetapi salahkan slogan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya.” Karena dengan kita membuang sampah di sungai juga bisa masih dapat dikategorikan sebagai tempat yang bisa untuk membuang sampah.

Dan lagi, yang lebih dan sangat mengganjal adalah slogan “orang yang beriman membuang sampah pada tempatnya.” Duh, ditambah-tambahin ranah agama lagi, siapapun itu dan di manapun itu, yang pertama harus ada kotak sampah dulu deh, masalah kebersihan tidak perlu dihubungkan dengan iman, tapi fasilitas umum yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

.

Tulisan Terkait:

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s