HIV/AIDS, Penyimpangan Nilai dan Hukum Agama

freeBanyak pelajaran yang saya dapatkan setelah tes bebas HIV/AIDS kemarin lusa. Termasuk berdasarkan informasi yang saya dapat dari dokter yang bersangkutan tentang semakin meningkatnya jumlah penderita dari tahun ke tahun.

Dari situ dapat disimpulkan bahwa ternyata banyaknya (banyak sekali) penderita penyakit tersebut karena kurangnya penerapan pendidikan moral (agama) dan salahnya pergaulan. Betapa tidak, bahkan di sana saya menjumpai penderita stadium 4 yang masih berusia sekira 19 tahun, kalau diperkirakan penyakit tersebut bermula sekira di usia 17 tahun.

Sekiranya perlu bagi kita merefleksikan diri bahwa pendidikan agama sudah tidak saatnya lagi menjadi ‘berhala’ atau bahkan ‘diberhalakan’. Bukan lagi sekadar untuk dipelajari, dihafal atau dijadikan materi pidato belaka. Remember this: talkless do more, yaitu melainkan yang lebih penting adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, selalu dipupuk dan dirawat.

Dari sisi keilmuan Islam dapat diamati betapa hebatnya Alquran dan Alhadits yang menyatakan tentang hukum dan status zina sebagai “the most serious sins concern to human life.”

Rahasia dibalik dosa besar itu ternyata secara sosial, psikologis dan medis telah terbukti benar adanya. Secara sosial, pasti akan berpengaruh pada perilaku pelaku yang akan memengaruhi rekan-rekan sepermainan ataupun sekerjanya. Secara psikologis tentu berpengaruh pada kejiwaan seseorang kala divonis terjangkit virus tersebut. Mengingat hingga kini virus tersebut masih belum ditemukan obatnya.

Jika dikaitkan dengan ajaran Islam, tentu permasalahan ini adalah satu dari sekian permasalahan yang tidak akan lepas dari justifikasi kebanyakan orang, yang menghendaki kebebasan, bahwa Islam adalah agama yang terlalu disibukkan dan berkutat pada pahala dan dosa, surga dan neraka, salah dan benar. Pada satu sisi memang benar adanya. Namun senyatanya jika dicermati kembali bahwa disitu ada restriksi bagi umat manusia dan melekat konsekuensi negatif yang formulasinya melalui religious punishment (baca: dosa).

Status dosa besar atas perbuatan zina telah menegaskan bahwa akan berakibat buruk pada pelakunya, tidak sekadar di dunia dan akhirat. Faktanya, memang nyata, bahwa HIV/AIDS itu tidak akan tertular tanpa hubungan intim, hubungan muda-mudi yang berlebihan. Sedangkan sesuatu yang berlebihan telah ditegaskan, dalam Islam, sebagai tindakan yang harus dihindari, termasuk yang satu ini. Karenanya, marilah menjalani hidup di dunia yang sekali ini yang bermanfaat, hidup yang sewajarnya, tanpa melebihi batas-batas, batas yang menjadi pegangan hidup manusia, norma dan hukum.

Pada sisi lain, tidak benar juga dikatakan Islam sebagai agama yang sekadar berkutat pada dosa dan neraka. Di luar fungsinya sbg positive warning, Alquran dan Alhadits juga mengajarkan etika, kemasyarakatan hingga sains. Banyak sekali ilmu alam yang belakangan terkuak yang ternyata sudah tertuliskan dalam alquran. Dengan kalimat lain, dapat dibuktikan bahwa Alquran memiliki landasan ilmiah dalam setiap firman yang tertuliskan di dalamnya.

Selain penularan HIV/AIDS yang melalui hubungan intim, bisa juga ketika berciuman lidah (jika salah satu ada yang sedang sariawan atau mulut atau lidahnya terluka). Selain itu bisa juga dari jarum suntik. Dan pada penggunaan jarum suntik ini seringkali melibatkan para pengonsumsi narkoba yang menggunakan jarum suntik secara bebas.

Intinya, sesuatu yang buruk, termasuk teman yang buruk, itu pasti mudah sekali menularkan keburukan-keburukan pada orang lain. Lain halnya dengan sesuatu yang baik akan sulit menularkan kebaikan pada orang lain.

Jangan dikira virus HIV/AIDS itu mudah diterka. Pada stadium 1 tidak ada gejala sama sekali. Baru mulai terlihat tanda-tandanya pada stadium 3. Dan pada fase itu, konsekuensi paling buruknya adalah seseorang tidak akan bisa bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama.

Marilah kita renungkan sejenak dalam perjalanan hidup kita. Kenapa kita merasa sulit sekali melakukan sesuatu yang benar, seringkali tindakan kita berseberangan dengan kata hati.

Seandainya kita adalah salah satu dari penderita HIV/AIDS, kenapa kita baru menyesali kemudian? Dari situ, marilah kita perbaiki kualitas hidup kita, dan semua tergantung kita masing-masing untuk mau melakukan perubahan.

Alhamdulillah, sehabis dari Rumah Sakit dr. Soebandi, beribu terima kasih saya ucapkan. Saya bersyukur sekali karena selalu dipertemukan lingkungan pergaulan yang baik, disekolahkan pada pendidikan agama dan diajarkan pada sistem yang bersifat ‘grass root’ (understanding). Hasil dari test VCT saya (untuk tes bebas HIV/AIDS), alhamdulillah NON REACTIVE.

.

Tulisan Terkait:

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s