Menelusur Jejak Pejuang Sarekat Islam, Imam Bukhari

Budaya literasi di Indonesia memang sungguh sangat lemah, jauh apabila dibandingkan dengan Belanda. Bagi belanda, setiap hal yang terjadi dalam hidup hampir selalu dituliskan, semua dicatat dan disimpan baik-baik. Mungkin karena hal inilah yang menjadikan Belanda menerapkan hukum kodifikasi, yang selanjutnya hukum tersebut diberlakukan di Indonesia, misalnya Burgerlijke Wetboek (BW) yang apabila diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer).

StatusSatu hal yang juga luput dari Indonesia, yaitu tentang hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, khususnya sejarah para pahlawan semasa memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ini adalah sebuah misi penelusuran sejarah salah satu pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, Imam Bukhari. Beliau adalah salah satu pejuang kemerdekaan yang semasa perjuangan kemerdekaan sebagai ketua Sarekat Islam di Blitar. Misi ini dilakukan oleh Om Ibra salah satu keturunan Mbah Imam Bukhari yang tengah berada di Swedia setelah menyelesaikan sekolah PhD-nya di sana. Ini adalah misi awal. Misi itu dilakukan di perpustakaan Leiden University, Netherland.

Saya tidak pernah tahu sebelumnya bahwa di Belanda terdapat catatan tentang Imam Bukhari, yang juga Mbah saya ini. Yang hanya saya tahu sebagaimana cerita dari para sesepuh, termasuk Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. bahwa Mbah Imam Bukhori adalah pejuang kemerdekaan dan beliau pada saat perjuangannya pernah diasingkan di Banda Neira bersama Soekarno. Beliau juga menuturkan bahwa Mbah Imam Bukhari ini sangat lancar dalam berbahasa Belanda (saya selalu tertegun; jangankan Bahasa Belanda, Bahasa Inggris saja saya masih susah). Yang selebihnya, saya masih belum tahu.

Namun selebihnya ini yang akan diurai oleh Om Ibra dan Tante Riana. Berikut beberapa penelusuran yang akan mengurai beberapa keterangan tentang Imam Bukhari.

***

Berikut adalah catatan yang dituliskan oleh Tante Riana sebagaimana dituliskan di theibrahimsfamily.com.

Imam Boekari

Leden van de Sarekat Islam, vermoedelijk tijdens een vergadering te Blitar

Sudah lama sebenarnya kami diamanati untuk mencari tahu sejarah tentang mbah KH. Imam Bukhori. Beliau adalah mbah buyut dari suami saya. Selain karena pesantren yang didirikan beliau saat ini dilanjutkan oleh keluarga kami, bapak, ibu mertua, dan kakak-kakak ipar saya, tentu saja juga karena Belanda bisa diibaratkan hanya “sepelemparan batu” dari Swedia. Oleh karena itu hukumnya wajib untuk mencari tahu tentang mbah Bukhori selagi kami masih di Swedia.

Petunjuk awal mengenai jejak mbah Bukhori kami dapatkan dari beberapa gambar. Namanya  juga kami temukan tercantum dalam suatu dokumen pdf disini (ditulis: Imam Boekari). Maka, jelas sudah, perpustakaan KITLV (Royal Netherlands Institute of South East Asia and Caribbean Studies) di Universitas Leiden akan menjadi tujuan kami.

Alhamdulillah, tanggal 7-11 Januari 2013 kami pun berkesempatan mengunjungi Belanda. Hari pertama setelah tiba, Leiden langsung kami datangi. Perpustakaannya kecil dan terlihat biasa-biasa saja, tapi koleksinya… wow! Mereka punya gudang yang sangat besar di bawah tanah. Jadi, kalau kita menemukan sesuatu yang kita cari di katalog, yang harus kita lakukan adalah melakukan “request” di sistem online. Kmudian setiap satu jam sekali koleksi-koleksi yang sudah di-request akan diangkut dari gudang ke perpustakaan.

Tujuan khusus kedatangan kami sebenarnya ingin mencari lebih dalam tentang kisah beliau di pembuangan (Banda Neira, Maluku). Karena untuk yang ini, informasinya masih sangat minim. Suami saya pun fokus dengan kata kunci “Banda Neira” selama awal kami berada di perpustakaan. Sementara saya, akhirnya memilih untuk menemani Raya bermain di luar.

Ketika 20 menit kemudian saya kembali ke perpustakaan, hasilnya ternyata nihil. Ada banyak dokumentasi tentang Banda Neira, tapi selain ditulis dalam bahasa Belanda, kami belum menemukan dokumentasi yang benar-benar mencantumkan nama beliau.

Naluri Mcgyver saya mulai bangkit. Biasa, kalau untuk urusan utak-atik begini, suami lebih sering dikalahkan oleh saya hehehehe.

Ketimbang menelusuri jejaknya di Banda Neira seperti yang suami saya lakukan, saya memilih untuk fokus dengan “bekal” yang sudah ada. Foto bukti kiprahnya di Sarikat Islam dan dokumen pdf. Dokumen tersebut menuliskan beberapa rincian, sepertinya dokumentasi-dokumentasi yang telah dikumpulkan oleh Godard Arend Johannes Hazeu, orang yang memiliki foto mbah Bukhari.

Awalnya, saya mengira bahwa dokumen tersebut hanya semacam “daftar pustaka” dari foto-foto yang dimiliki G.A.J Hazeu. Ketika kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, saya mulai merasa tergelitik, karena ditulis seperti ini:

“Copies of some of my opinions on religious movements: 1. About the Sasak Dane, 2, 3. About Dirmodjojo Bendoengan Baron I and II; 4. About Imam Boekari (Kediri) 5. About Hadji Ngabdoelngalim (Jokjakarta) 6. About the loerahs of Gapoera and Toegoe (Modjokerto). From 1908 to 1917.”

Copies of some of my opinions on religious movement? Ini lebih terasa seperti judul buku ketimbang judul foto! Saya pun akhirnya memutuskan bertanya pada petugas perpustakaan (sementara suami, akhirnya berhasil menidurkan Raya hehehe).

Saya: Ada yang ingin saya tanyakan tentang dokumen ini, sepertinya ini menceritakan tentang kakek buyut kami.

Petugas Perpustakaan: (Membaca dokumen yang saya tunjukkan kemudian menjawab) Oh sebentar saya carikan di sistem ya. (Setelah beberapa saat) Ya, kami punya datanya! Dokumentasi ini berupa kopi dari suatu buku, tapi publikasinya sudah tidak berbentuk buku lagi, melainkan dalam bentuk microfiche. Untuk bisa membacanya, kalian harus dibantu dengan alat khusus.

Kami: Microfiche? (Bengong karena belum pernah dengar sebelumnya hehehe)

Petugas perpustakaan pun kemudian menjelaskan apa yang dimaksud dengan microfiche. Jadi, microfiche adalah semacam kumpulan klise yang disatukan dalam suatu lembaran. Rata-rata tiap lembar ada sekitar 20 klise. Untuk melihatnya, kita harus memasukkan lembaran klise tersebut ke dalam scanner (mirip seperti kaca preparat kalau di laboratorium), kemudian hasil scan tersebut akan muncul di dalam layar. Nah, kalau berdasarkan wikipedia, begini penjelasannya:

A microfiche is a flat film 105 x 148 mm in size, that is ISO A6. It carries a matrix of micro images. All microfiche are read with text parallel to the long side of the fiche. Frames may be landscape or portrait. Along the top of the fiche a title may be recorded for visual identification. The most commonly used format is a portrait image of about 10 x 14 mm. Office size papers or magazine pages require a reduction of 24 or 25. Microfiche are stored in open top envelopes which are put in drawers or boxes as file cards, or fitted into pockets in purpose made books.

begini cara menggunakan microfiche :DSetelah request ke sistem online, kami harus menunggu sekitar sejam untuk mendapatkan microfiche yang kami inginkan diambil dari gudang. Petugas pun membantu bagaimana caranya menggunakan microfiche untuk pertama kalinya.

Kendala pertama: microfiche tidak bisa dicopy, karena bentuknya bukan material buku asli. Jadi jalan satu-satunya adalah dengan cara memfoto satu persatu halaman/klise dalam satu lembaran microfiche.

Status Mas IbraKendala kedua: Tulisannya ditulis dalam bahasa kompeni, hehehe.

Kendala ketiga: Ada yang diketik pakai mesin ketik, ada yang ditulis tangan (untung tulisan Hazeau ini indah dilihat, jadi cukup terbaca).

Subhanallah… Betapa takjubnya kami melihat nama dan catatan tentang Mbah Bukhori (disitu tertulis Imam Boekari dari Kediri) ada dalam dokumentasi seratus tahun yang lalu. Khusus untuk Mbah Bukhori, Hazeu ini menulis 15 halaman tentang beliau.

Sepulang dari Leiden, rasanya lega sekali. Walaupun dokumentasi tentang beliau di Banda Neira tidak berhasil kami dapatkan, tapi kami membawa oleh-oleh data tentang beliau yang ditulis dengan gaya semacam biografi oleh seorang pegawai pemerintah Belanda pada zamannya (yang mana, data-data tersebut menanti untuk diketik ulang dan diterjemahkan. hehehe).

***

Itulah beberapa informasi sementara yang bisa digali. Semoga dapat dikembangkan dan didapatkan informasi yang lebih lengkap dalam beberapa waktu ke depan.

Untuk beberapa foto dan keterangan tentang beliau dapat dirujuk di sini.

.

Tulisan Terkait:

Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s